Seragam Menua, Solidaritas Tak Pernah Pensiun: Menwa Mahawarman Jabar Jalin Silaturahmi dengan Para Sesepuh
Penulis: Redaksi·Editor: Redaksi·18 Maret 2026·3 menit baca

Menyusuri Jejak Sejarah yang Melekat
Di setiap sudut markas, cerita-cerita lama kembali mengalir. Ada yang mengenang masa-masa berat di medan latihan, ada yang bercerita tentang dinamika kampus era 70-an, hingga diskusi hangat tentang bagaimana dulu Menwa bukan hanya organisasi ekstrakurikuler, tetapi bagian dari denyut perjuangan bangsa.
Mahawarman memang memiliki akar sejarah yang kuat. Organisasi ini merupakan kelanjutan dari Tentara Pelajar Indonesia, yang lahir di tengah konfrontasi Dwikora dan situasi politik genting tahun 1964. Bahkan, markas di Jalan Surapati ini menyimpan cerita kelam sebagai salah satu titik panas dalam pusaran peristiwa G30S/PKI. Kala itu, Batalyon 1 dari ITB dilaporkan mendapat mandat dan persenjataan langsung dari Jenderal A.H. Nasution.
Jejak sejarah itu dijaga dengan sangat hati-hati. Di dalam markas, tersimpan Pataka Dhuaja—simbol warisan Tentara Pelajar yang hanya dikeluarkan pada momen-momen tertentu. Yang terlihat oleh publik hanyalah replika. Sedangkan yang asli disimpan rapat, dirawat, seolah ikut merawat ingatan kolektif tentang pengabdian dan pengorbanan.
Solidaritas yang Tak Kenal Pensiun
Di era ketika ingatan kadang begitu cepat luntur dan hubungan sosial sering kali renggang oleh waktu dan kesibukan, Menwa Mahawarman memilih jalan berbeda. Mereka sengaja memperlambat langkah, menoleh ke belakang, dan memastikan bahwa mereka yang pernah berjasa tak dilupakan begitu saja.
Bagi para anggota muda, bertemu dengan para sesepuh bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah pengingat bahwa di balik seragam lusuh dan rambut memutih, ada cerita perjuangan yang menjadi fondasi kokohnya Menwa hari ini.
\"Biar seragamnya menua, biar fisiknya melemah. Tapi solidaritas, sekali kita tanam, harusnya tidak pernah pensiun,\" ujar Ali Budiman menutup perbincangan.
Sebuah pesan sederhana, namun cukup untuk menghangatkan sore di tengah hiruk-pikuk kota yang mulai sepi ditinggal pemudik. (*)
Halaman 2 dari 2




